Hei.....

ailovestosmile:


Sebuah catatan Islam Abdurrahman (Dokter sukarelawan, ahli anestesi dan ‘critical care’ yang memberikan perawatan emergency pada Mick Deane, wartawan Skynews).

16 August 2013 at 03:44

Karena saya ikut protest sit-in di Rabaa, saya ada di sana Rabu pagi. Sekitar 6 pagi ada alarm dari…

Foto ini diambil di suatu hari pada bulan Februari yang bersih.Saya masih bisa membayangkan betapa sejuk suasana dan aroma rumput yang sedikit basah di bulan itu.Tanpa sengaja saya menemukan satu lembar ini di bagian dalam lemari. Dan mengingatnya bahwa saya juga telah menyimpannya dalam bentuk softcopy di memori laptop.
Tiba-tiba terbesit di pikiran; “Hei, kenapa tidak meng-upload-nya saja di Tumblr. !”
Dan disinilah kita sekarang.
Kenapa foto ini penting?
Bismillah…Karena foto ini menunjukan salah satu momen yang mengingatkan bahwa saya bahagia.
Bahwa banyak sekali nikmat yang Allah berikan pada saya.
Bocah-bocah di dalam foto ini adalah dua dari sedikit orang yang saya bisa menunjukan diri saya apa-adanya tanpa perlu merasa risau dituntut bersikap ini-dan itu.
Tanpa perlu merasa risau menjadi orang yang tidak mereka sukai.
Lagian, sejak kapan menjadi-disukai adalah sebuah tujuan yang harus dipikirkan? Right? :D
Sahabat. Maka carilah dan bersamai mereka karena Allah, dengan cara yang diridhoi Allah, dan untuk menggapai ridho Allah.

Foto ini diambil di suatu hari pada bulan Februari yang bersih.
Saya masih bisa membayangkan betapa sejuk suasana dan aroma rumput yang sedikit basah di bulan itu.

Tanpa sengaja saya menemukan satu lembar ini di bagian dalam lemari. Dan mengingatnya bahwa saya juga telah menyimpannya dalam bentuk softcopy di memori laptop.

Tiba-tiba terbesit di pikiran; “Hei, kenapa tidak meng-upload-nya saja di Tumblr. !”

Dan disinilah kita sekarang.

Kenapa foto ini penting?

Bismillah…
Karena foto ini menunjukan salah satu momen yang mengingatkan bahwa saya bahagia.

Bahwa banyak sekali nikmat yang Allah berikan pada saya.

Bocah-bocah di dalam foto ini adalah dua dari sedikit orang yang saya bisa menunjukan diri saya apa-adanya tanpa perlu merasa risau dituntut bersikap ini-dan itu.

Tanpa perlu merasa risau menjadi orang yang tidak mereka sukai.

Lagian, sejak kapan menjadi-disukai adalah sebuah tujuan yang harus dipikirkan? Right? :D


Sahabat. Maka carilah dan bersamai mereka karena Allah, dengan cara yang diridhoi Allah, dan untuk menggapai ridho Allah.

Carilah teman yang meskipun ilmu dinnya sedikit tapi ia amalkan… Tidak ada kebaikan bagi ilmu yang tidak diamalkan…
Abu Aisyah, 2013

Kawan, tak usah khawatirkan besar-kecilnya rezekimu, karena ia sudah dijatah untukmu.
Cemasilah ikhtiarmu, sudahkah maksimal sebagai pertanggung jawaban amalmu?

(karena kerja keras itu ciri muttaqin, dan menjadi muttaqin artinya cinta..)

Ya, Benar ! :) Pada hakikatnya, tidak ada pangkat dalam Dakwah. Sesungguhnya orang-orang yang turut mendorong laju kereta da’wah, tidak mengharap kepemimpinan atau kedudukan. Tidak memuaskan dirinya sejak semula, ketika ia mulai menapakkan kakinya ke pintu da’wah sebagai prajurit. Kalau di barisan belakang tempatnya tetaplah di belakang, kalau di depan tetaplah di sana, tidak menggantungkan tujuan lain kecuali ridha Allah. Waktunya berbenah diri; saatnya kita menanam cinta, bekerja tanpa mencela, dan harmoni di tengah semesta..

Ya, Benar ! :)
Pada hakikatnya, tidak ada pangkat dalam Dakwah.

Sesungguhnya orang-orang yang turut mendorong laju kereta da’wah, tidak mengharap kepemimpinan atau kedudukan.

Tidak memuaskan dirinya sejak semula, ketika ia mulai menapakkan kakinya ke pintu da’wah sebagai prajurit.

Kalau di barisan belakang tempatnya tetaplah di belakang, kalau di depan tetaplah di sana, tidak menggantungkan tujuan lain kecuali ridha Allah.

Waktunya berbenah diri; saatnya kita menanam cinta, bekerja tanpa mencela, dan harmoni di tengah semesta..

Apa anda pikir ini sebuah foto yang cantik? Seorang perempuan muda dengan senyum menawan? Anda salah. Foto ini penuh kebencian dan rasisme. Seorang pemudi Israel yang sedang membawa spanduk mendesak pengusiran warga muslim pribumi Palestina dan warga kulit Hitam yahudi asal sudan dari wilayah yang mereka (israel) ambil. Spanduk ini bertuliskan: “Berhenti bicara dan Mulai usir (mereka). ”  Foto diambil di reli anti-pengungsi di Tel Aviv tanggal 22 May 2012.. (Sumber foto: Yossi Gurvitz / Flickr)

Apa anda pikir ini sebuah foto yang cantik?
Seorang perempuan muda dengan senyum menawan?

Anda salah.
Foto ini penuh kebencian dan rasisme.
Seorang pemudi Israel yang sedang membawa spanduk mendesak pengusiran warga muslim pribumi Palestina dan warga kulit Hitam yahudi asal sudan dari wilayah yang mereka (israel) ambil.
Spanduk ini bertuliskan: “Berhenti bicara dan Mulai usir (mereka). ”

Foto diambil di reli anti-pengungsi di Tel Aviv tanggal 22 May 2012..

(Sumber foto: Yossi Gurvitz / Flickr)

Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan,
tapi lihatlah….
kepada kebesaran zat,
yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya.
Bilal bin Rabbah RA

Seorang pemuda muslim Thailand dengan second language-nya Arabic bertemu dengan seorang muslim indonesia dengan second language english di lantai dua sebuah masjid..

Sayangnya pemuda siam Thailand ini tak faham english dan si indonesia tak bisa bahasa Arab..

Dengan bermodal fisik yang sama-sama melayu dan pertautan hati karena iman, si indonesia ini memberanikan diri untuk menyodorkan satu porsi martabak telur..
Si Thailand mengambil sepotong, mengunyahnya dan tersenyum..

Perasaan hangat mengalir perlahan di hati si pemuda Indonesia.

Yah.. Senyum adalah bahasa yang sangat universal..

Pemuda Riau dengan wangi selembut angin.

"Menjadi (seorang) Rojuludda’wah, ente harus kuat."

 (Alm. Ust Abdul Gani Fani, 1987-2013)

Bismillah.

Mungkin memang saya bukan sahabat terdekatnya.

Mungkin memang saya tak begitu mengenalnya.

Tapi percayalah, tak ada kenangan yang saya miliki dari diri beliau selain orangnya baik sekali.

Ba’da sholat shubuh pagi ini, saya mendapatkan pesan di WhatsApp dari nomor tak dikenal bahwa beliau telah wafat.

Sama halnya, jika mendapatkan berita duka, air mata saya meleleh.

Selang tak berapa lama, saya berlari menuju pancuran. Makanan Sahur saya keluar kembali.

Belum setengah jam makanan itu ada di lambung, ini menandakan rapuhnya perasaan saya dikarenakan memori saya tentang beliau.

Saya mengenalnya diawal tahun 2012. Kami bertemu di masjid. Kontrakan kami memang bertentangga saat itu.

Wajahnya gempal badannya besar. Sikapnya kebapakan sekali.

Seorang kawan, pernah berujar; “Bagaimana mungkin engkau bisa mengenalnya? Padahal dia selalu membiasakan dirinya berkomunikasi dengan bahasa Arab?” Langsung kujawab; “Yah, dengan orang yang tak bisa bahasa Arab, tentu ia memakai bahasa Indonesia.” :D

Pertanyaan yang menarik sekali.

Singkat kata kami akrab.

Bagaimana mungkin tidak akrab, Sejak saat itu beliau datang rutin di shubuh hari ke pintu kontrakan untuk memastikan kami sudah bangun dan siap melaksanakan sholat shubuh berjama’ah di masjid.

Saya tak berlebihan, beliau datang rutin di shubuh hari ke pintu kontrakan kami, memastikan mata kami sudah terbuka dan segera bergegas lagi ke masjid untuk melaksanakan sholat sunnah qobliyah.

Mungkin itu puncak-puncaknya di usia saya, saya tak putus sholat shubuh berjama’ah di masjid.

Tak lama setelah terbit fajar, terkhusus akhir pekan, dia akan kembali ke depan kontrakan saya lengkap dengan sepatu model lama dan celana santai cingkrang se-betis. Memaksa Lari pagi.

"Ente menyiksa ane, Gani." keluh saya ditengah salah satu sebuah sesi sit up 30 kali setelah saya dengan terseok-seok berhasil mengejar beliau mengelilingi mal pejaten village.

Dia tertawa. Dan hanya berkata; “Menjadi (seorang) Rojuludda’wah, ente harus kuat.”

Saya pun ikut tertawa.

Setelah tak berhasil memaksa saya push up, akhirnya kami pendinginan. Dan pada saat itulah ia bercerita mengenai hidupnya, keluarganya, dan mimpi-mimpinya.

Ia bercerita bahwa ia sudah menikah.

Ia bercerita bahwa ia sangat bahagia dengan pernikahannya.

Ia bercerita mengenai saudara perempuannya yang menempuh kuliah pendidikan matematika.

Ia bercerita mengenai kemampuannya dalam komputer yang ia dapati di kuliah sebelumnya.

Ia bercerita tentang Riau, sebuah negeri yang hanya dapat saya bayangkan dari senyumnya.

Ia bercerita mengenai LIPIA, dan pentingnya belajar bahasa Arab. Beliau memotivasi saya.

"Apakah ente memiliki mimpi untuk bisa kuliah di Madinah (Univ Islam Madinah), Gani?" tanya saya polos, suatu hari.Dia tersenyum. Dia sudah merasa amat bersyukur sekali bisa kuliah di LIPIA. Begitu kurang lebih jawabanya.

Pernah pada suatu saat. Dia membawa bayi perempuannya ke kontrakan.

Tentu saya orang yang paling antusias. Sikapnya kebapakan sekali. Coba bayangkan, dirinya berjalan sendiri saja sudah seperti bapak-bapak. Apalagi saat beliau membawa bayi. :)

Beliau sayang sekali dengan putrinya. Dan saya berhasil menggendongnya walau sebentar.

Satu hal lagi yang saya ingat dari beliau.

Sholat ba’diyah maghrib dan isya-nya jauh lebih lama dari sholat fardhunya. ^^

Dan ini jelas sangat menarik. Saya terkadang membeli minuman ringan dari warung belakang masjid, lalu menontonya sholat dari belakang. Senyum saya merekah saat marbot masjid sudah terlampau kesal menunggu beliau selesai dan akhirnya pulang mematikan lampu meninggalkan beliau sendiri dalam kegelapan. :))

Beliau orang yang santun.

Berkali-kali ia minta maaf saat ia sedang mengobrol dengan kawannya memakai bahasa Arab padahal ada saya disana. Saya sampaikan kepadanya, saya tak apa-apa.

Banyak kosakata baru yang saya dapatkan dalam bahasa arab yang dari beliau di kontrakan.

Seperti; “Shollu… Shollu…!! Kum…!! Kum…!!!” (artinya: Sholat… Sholat…. Bangun… Bangun….!!)

:P

Kami tak pernah makan bersama. Saya mengira ini dikarenakan beliau lebih mengutamakan istrinya di kontrakan beliau sendiri, dan makan bersamanya. :)

Akhir tahun 2012, saya telah menyelesaikan studi dan tugas akhir saya.

Dan ini artinya satu hal; saya akan di wisuda bulan Februari 2013.

Ini adalah akhir kesempatan kami bertetangga, tak lama dari itu saya pindah ke rumah orangtua saya dan mulai bekerja, sibuk dengan dunia saya sendiri.

Sejak saat itu saya jarang bertemu dengan beliau.

Bulan Mei 2013, beliau mengundang saya ke Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah, tempat beliau mengajar di bogor, saya menginap disana 2 hari 1 malam. Pengalaman menyenangkan yang tak terlupakan.

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengekspos pribadinya, tapi tulisan ini lahir sebagai bentuk keegoisan perasaan saya, agar saya dapat membacanya dikemudian hari karena saya telah berazzam untuk tidak akan melupakan segala hal baik tentang beliau.

Ustadz Abdul Gani Fani, wafat karena leukemia akut pada dini hari (sebelum pukul 1) tanggal 27 Juli 2013 di Rumah Sakit Ibnu Sina Pekanbaru, Riau. Beliau meninggalkan seorang putri kecil dan seorang istri yang sekarang sedang hamil 8 bulan… Bagi segenap saudara dan sahabat mohon do’a untuk kemudahan dan segala kebaikan keluarga yang ditinggalkan…

 Ana uhibbuka fillah, ustadz Gani. Jakarta, 18 Ramadhan 1434 H - 27 Juli 2013 M

Ya, kami mencintai kalian.

Bahkan saat matahari dengan indahnya tenggelam di ufuk barat, air mata saya masih berembun… Teringat pada qunut nazilah yang dilantunkan imam masjid siang tadi.

Seorang pemuda yang berjalan disebelah saya, menoleh khawatir.
“Ada apa, kak?” tanyanya.

Kupandangi wajahnya, usianya masih kisaran SMA.
“Kamu sedih tidak?” tanyaku serak.

“Mesir?” tanyanya balik.
Sayapun menggangguk.
“Kak, kalau kita tidak berduka, kita tidak sedang berkumpul disini sekarang.” jelasnya.

Aku tersenyum. Lautan manusia disekelilingku menjelaskan perkataannya bahwa kesendiriaan itu semu. Kami semua saling membersamai. Berduka. Namun tak sendiri.

Saya selalu bertanya-tanya,
Mengapa ujian mereka begitu berat?
Mengapa di #mesir, #suriah, atau #palestina..

Namun seperti perkataan ustadz Nandang;

Karena mereka sudah selesai dengan target tilawahnya, target ibadah hariannya, target shalat malamnya, target maaliyahnya, target olahraganya, target ukhuwahnya, target tatsqifnya, dan kekuatan aqidahnya !
Jadi wajar, ujiannya bukan lagi mengenai wanita, bukan lagi mengenai harta, bukan lagi mengenai ‘ghill’, apa lagi mengenai kurangnya ukhuwah..
Ujian kepada mereka telah lebih lebih selangkah.

Dan sungguh aku malu ! Saksikanlah, bahwa kami tak akan berdiam diri di sini.
Walau hanya dengan sebait do’a:
“Ya Allah, lindungilah saudara-saudaraku disana…”

(Medan Merdeka, 16 Agustus 2013)